makh
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Cerpen » Sebuah Pelita

Sebuah Pelita

(289 Views) November 24, 2020 2:47 pm | Published by | Comments Off on Sebuah Pelita

Oleh : W. Lestari | Guru MAN 4 Bantul, DIY & anggota PPIB

           Sudah lebih dari 5  hari ini, setiap berangkat dan pulang sekolah, selalu  aku merasa ada yang sering memperhatikan aku. Ya, anak itu mau apa dia , dari spion sepeda motorkah. terlihat, anak itu memandangku tiada henti hinga aku berbelok menuju sekolah.  anak itu masih memperhatikan aku, seolah dia ingin mengatakan sesuatu, mungkin  minta tolong, entah lah.

Begitu selalu berulang dari hari ke hari, hingga hari ke 5 ini, saat aku berhenti di lampu merah, seorang anak berbaju lusuh dan kotor menatapku dari seberang jalan, Matanya sayu kelihatan dia sangat capek, mungkin juga dia belum makan, umurnya kira-kira 7 tahun. “ Sepagi ini mengapa dia sudah di perempatan Blok O”, pikirku. “Apa dia tidak sekolah, apa dia tidak punya orang tau, ,… apa dia.., apa dia dst”, berbagai prasangka muncul di kepala. Tangannya memegang kantong plastik dan kecrek semacam alaat music yang terbuat dari botol air minum diberi batu-batu kecil sehingga jika digoyang-goyangkan akan berbunyi, ctrek..crek. Rambutnya acak-acakan dan terlihat lengket. Mungkin jarang mandi. Jujur aku kasihan melihatnya, rasanya ingin menghampiri, memberinya sekedar uang jajan, tapi aku takut, jangan-jangan ada orang tuanya bahkan bosnya yang menunggunya .

            Sepertinya dia hafal kebiasaanku jam berangkat dan pulang sekolah. Mulanya, aku cuek saja. Tapi, lama kelamaan aku merasa risih dan khawatir juga. Jangan-jangan dia sedang mengincar sesuatu dari aku, atau seseorang menyuruh dia untuk memata-matai aku, lalu menculikku! Hiii, aku takut.

            Baru saja aku berhenti karena lampu merah, anak itu terus memandangi aku. Dia selalu menghentikan kegiatan mengamennya setiap melihatku. Entah sudah sejak jam berapa dia mencari uang di lampu merah itu. Aku mencoba membalas memandangi anak itu. Aku ingin tahu apa reaksinya. Eh, ternyata dia tetap juga menatapku.

            “Kamu kenapa, Far? Kok bengong di situ.” Dhea menyapaku , saat jam istirahat dan aku hanya duduk di kelas saja.

“Oh tidak, Dhe. Aku teringat pengamen cilik yang sering kita lihat di perempatan Blok O itu, kasihan melihatnya, sepagi ini sudah mencari uang, jujur dhea sebenarnya aku sedang mencurigai dia’, Jawabku

“Iya, kasihan, ya. Anak seusia dia sudah harus bekerja keras mencari sesuap nasi, kapan-kapan kita dekati yuk, sekedar tanya orang tuanya kemana”, jawab Dhea

            Aku kurang begitu mendengarkan perkataan Dhea. Pikiranku selalu tertuju pada pengamen cilik itu . Apakah dia tak punya keluarga ya, kasihan , nanti malam aku akan cerita dengan orang tuaku, pasti orang tuaku mau membantu, toh di rumah ada 2 orang anak yatim piatu yang menjadi anak asuh mamah, lumayan aku merasa punya kakak, dan adik, karena aku anak tunggal. Tapi tidak ah,  kalau anak itu ternyata tidak ada maksud apa-apa,  bisa-bisa aku yang disalahkan. Berbagai pertanyaan berkecamuk dipikiranku sejak jama pertama sampai jam terakhir pelajaran., hingga tidak terasa waktu pulang sekolah tiba, Dhea segera menghampiri

“Ayo Far, kita jadi menemui pengamen cilik itu khan”, tanya Dhea.

“Oh iya jadi ini aku baru menyiapkan uang untuk membelikan makan siang dia dengan teman-temannya, Jawabku semangat.

Setiap hari aku memang selalu berboncengan dengan Dhea, baik berangkat sekolah maupun pulang. kebetulan rumahnya dekat denganku, hingga bisa selalu bersama. Siang itu sepulang sekolah aku dan Dhea berencana untuk menemui pengamen cilik itu

Setiba di perempatan itu kesana-kemari mataku mencari-cari tubuh mungil pengamen cilik itu, tapi belum juga ketemu, karena sudah cukup lama, aku putuskan bertanya kepada pengamen lain yang ada di sekitar tempat itu.

“Dik, lihat pengamen cilik perempuan yang biasa mangkal bersama adik , disini”?. Kataku

Lama anak-anak yang juga pengamen itu memandang dengan sorot mata yang ketakutan”, sepertinya mereka ingin mengatakana sesuatu, tapi takut.

            “Jangan takut aku Kak Farad ini kak Dhea, kami sekolah di dekat sini, kita sering ketemu khan”, Kataku

“pengamen cilik itu mengangguk, kemudian menjawab pertanyaan kami. Dengan ketakutan.

Pengamen yang agak besar menjawab, pertanyaanaku, sambil melihat ke kanan dank e kiri,

“Kami tinggal di gubug belakang toko besi di samping jempatan kak, satu-satunya rumah di pinggir kali.kalau kakak menemui Siti , tolong kami kak.” Katanya mengakhiri jawaban.

Aku hanya berdiri terbengong-bengong ada apa ini, mengapa amereka seperti ketakutan. Sudahlah gak usah dipikir, yang penting sudah dapat alamat Siti.

Tak lama aku dan Dhea menuju lokasi yang ditunjukkan oelh anak-anak tadi, sepanjang jalan aku ngobrol tentang ketakutan anak-anak itu , “Dhe kamu ingat gak anak-anak tadi ketakutan, jangan-jangan seperti di tv-tv itu ya, mereka korban penculiukan kemudian disuruh ngamen sama aorang dewasa’, Kata ku sepanjang jalan.

“Kita lihat saja nanti Far, kita harus waspada secara kita perempuan”,kata Dhea

“Jangan takut Dhe walaupun perempuan kita khan bisa bela diri malah sama –sama sudah sabuk hitam”, lanjutku.

“Iya sih , tapi takut juga”, jawab Dhea

“Bismillah Allah bersama kita”.

            Tak butuh waktu lama untuk mencari rumah yang ditinggali Siti, wah bener-bener terpencil, masak sih di tengah kota Yogya ada rumah terpencil di pinggir kali seperti itu. Dari tempat aku berdiri aku melihat ada satu rumah yang terletah di tengah sawah di pinggir kali, tapi kok jelk banget ya, pikirku. Kami tinggalkan motor di pinggir jalan , kemuadian kamu berjalan menyusuri sawah.

Makin dekat aku merasa sedih, Ya Allah, rumah Siti hanyalah bilik sederhana, sama dengan rumah yang terbuat dari kardus yang ditata sedemikian rupa. Lingkungannya kumuh, dengan bau tidak sedap tercium di mana-mana. Hanya ada satu rumah , aku segera mendekat dan berucap salam. Keluar dari rumah itu seorang anak kecil seumuran dengan Siti.

“Waalaikumsalam”, sahutnya

“maaf dek benar ini tempat tinggal Siti, yang biasa ngamen di perempatan Blok O”, tanyaku

“Iya kak”, ada apa, matany melirik ke kana n dank e kiri, seolah-olah dia takut diketahui entah oleh siapa.

Akhirnya aku menceritakan maksud kedatangaku , dan bermaksud untuk menjenguknya. Akhirnya di ajak masuk, Ya Allah kondisi Siti benar-benar tidak layak, tak ada Kasur ataupun tempat tidur, dalam kondisi sakit, Siti hanya tidur beralaskan tikar yang sudah lusuh.

Aku Dhea yang memulai bicara, “Siti, maaf kalau kedatangan kami mengganggumu. Perkenalkan, ini Farah dan aku Dhea, teman Farah. Farah ingin bicara sama kamu.”

“Aku mau minta maaf, dan ……” belum selesai aku bicara, ada suara keras memotong pembicaraan kami,

“Heh, mana Siti… manauang setoranmu hari ini!”, terdengar suara sangata lantang.

Ada seorang abang badanya sangat besar , masuk ke dalam rumah, dia kaget melihatku

“Siapa kamu, ada perlu apa, cepat pergi atau aku patahkan lehermu”, bentaknya

            Aku kaget sekali., si abang tibaa-tiba sudah  berdiri di samping kami dan membentak Siti. Yang satu berbadan gendut botak, dan yang satu lagi bertubuh kerempeng dengan rambut gondrong. Melihat kedua orang itu, anak kecil yang tadi menemuiku langsung kabur. Siti terlihat sangat ketakutan.

“Mana uangnya?” tanya si Kerempeng dengan nada lebih keras lagi.

“Aku sa..kit bang belum bisa ngamen,” Siti menjawab terbata-bata. Plakk, tiba-tiba si Kerempeng menampar Siti. Pipi Siti terlihat memerah. Kasihan, pasti sakit rasanya.

“Kamu mau melawan, ya!” bentak si Kerempeng.

Aku lihat tangan kekar milik si Botak terayun. Aku tidak boleh tinggal diam. Tiba-tiba  timbul keberanianku untuk melawan mereka. Ya Allah, hamba mohon perlindungan-Mu. Aku bergerak cepat untuk melindungi tubuh kecil Siti.

 “Jangaaan …!” teriakku,ini uang setoran Siti,” teriakku sambil menyerahkan uang lima puluh ribuan. Uang itu seharusnya tadi aku setorkan ke ketua kelasku untuk membayar buku, tapi aku lupa. Ya, semoga dengan uang itu bisa menyelesaikan masalah Siti.

“Hei, kamu mau jadi pahlawan, ya.” Si Botak membentak sambil merebut uang di tanganku.

“Ini masih kurang,Copot jam tanganmu,” bentak si Kerempeng ke arahku. Aku kaget. Aku tidak mau diperlakukan seperti itu. Kasar sekali. Ini jam tangan kesayanganku, apa lagi jam tangan ini hadiah ulang tahun dari Mamaku.

“Lariii…!” Aku berteriak memberi aba-aba kepada Dhea. Kami berlari kencang. Aku lihat si Botak dan si Kerempeng mengejar kami.

 “Hei, awas kalian, jika berani kemari lagi!” teriak si Botak.

“awas kalaau berani cerita dnegan orang lain aku bunuh kau”, kata kerempeng.

 Kami terus berlari, dan akhirnya kami bersembunyi di pekarangan rumah milik orang. Aku bersyukur, setidaknya orang itu sudah pergi dari rumah Siti. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Di rumah,  aku bercerita kepada Mama tentang kejadian itu. Papaku sangat marah, Papaku adalah seorang Polisi, mengapa di wilayahnya ada orang yang berani, menyekap beberapa anak kecil. Akhirnya papa mengadakana rapat dengan anggotanya, Sore harinya papa bersama anggotanya bermaksud menangkap si abang tadi. Alhamdulillah, sejak saat itu  keenam anak kecil yang diculik si abang dan dipaksa mengamen diasuh oleh keluargaku, total  anak asuh mama dan papaku ada 15. Tentu kamai tidak mampu sendiri, tetapi tetangga-tetangga banyak yang membantu mempersiapkan semua kebutuhan anaka-anak itu, sampai mereka menemukan orang tua mereka. Terima kasih Ya Alloh, walauapun aku sendiri, tapi kini aku memiliki banyak adik. Alhamdulillah.

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags: ,
Categorised in:

Comment Closed: Sebuah Pelita

Sorry, comment are closed for this post.