makh
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Artikel » GLS… Mewujudkan Masyarakat Literat

GLS… Mewujudkan Masyarakat Literat

(2786 Views) October 11, 2020 3:52 am | Published by | Comments Off on GLS… Mewujudkan Masyarakat Literat

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan program literasi yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai salah satu upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Literasi adalah kemampuan dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas melalui proses pembiasaan membaca, menulis dan mengkomuniasikan/menyampaikan/menceritakan kembali apa yang telah dibacanya. Proses pembiasaan tersebut akan melahirkan budaya literasi yang menumbuhkan karakter dan budi pekerti, sebagai identitas seseorang. Budaya literasi di sekolah diwujudkan melalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di setiap satuan pendidikan, mulai dari tingkat SD, SMP sampai dengan SMA/SMK dan SLB. Oleh karena itu, impelementasi GLS di setiap tingkatan pendidikan berbeda-beda, di sesuaikan dengan kemampuan, minat dan perkembangan psikologis peserta didiknya.

Tujuan dari GLS adalah menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar, agar warga sekolah mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat dan dapat memenuhi perannya di era teknologi informasi. Program literasi sekolah diperkuat dengan gerakan penumbuhan budi pekerti seperti yang tertuang dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Implementasi GLS salah satunya melalui kegiatan membaca 15 menit buku non pelajaran yang dilakukan sebelum pembelajaran. Program tersebut terintegarasi dalam kurikulum dengan melibatkan semua guru mata pelajaran serta dukungan dari semua warga sekolah, pengawas, kepala sekolah, orang tua, masyarakat, stakeholder dan pemangku kepentingan di tingkat pusat, provinsi, kota/kabupaten, satuan pendidikan yang merupakan bagian dari ekosistem pendidikan yang dilaksanakan secara berimbang, holistik, dan berkelanjutan, sehingga peserta didik memiliki kecakapan berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Tahapan pelaksanaan GLS terdiri dari tiga tahapan ; (1) penumbuhan kegiatan 15 menit membaca, sesuai dengan Permendikbud No. 23 Tahun 2015, (2) meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menaggapi buku pengayaan (ada tagihan non akademik), (3) meningkatkan kemampuan literasi semua mata pelajaran; menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran (ada tagihan akademik).

Untuk mewujudkan budaya literasi melalui GLS, maka di tingkat satuan pendidikan perlu di bentuk Tim Literasi Sekolah (TLS) yang bertugas untuk menyusun program, memantau pelaksanaan program, dan penilaian program kegiatan, serta menganalisis kebutuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. TLS harus mampu menciptakan suasana akademik yang kondusif, yang mampu membuat seluruh warga sekolah antusias untuk belajar, nyaman dan betah tinggal di sekolah. Salah satu cara yang dapat meningkatkan GLS di sekolah adalah dengan diadakannya lomba/festival antar siswa/sekolah atau apresiasi seni budaya, seperti lomba mading digital, membuat dan membaca puisi, membuat cerpen, membuat blog, lomba desain poster, komik, film pendek, iklan layanan masyarakat, profil sekolah dan sebagainya yang menuntut kreativitas dan profesionalisme seseorang, karena kegiatan tersebut tidak mungkin dapat terlaksana tanpa adanya budaya literasi.

Memasuki abad ke-21 yang merupakan era globalisasi, GLS di tingkat SMA/SMK khususnya, di kembangkan dengan memanfaatkan teknologi informasi berbasis elektronik (literasi digital/e-literasi), yang menuntut kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas, analitis, kritis, dan reflektif. Fasilitas internet yang ada di sekolah, hendaknya dimanfaatkan di bawah pengawasan dan bimbingan guru, sehingga fasilititas tersebut dapat dijadikan sebagai pojok baca untuk mengakses sumber baca, sebagai pengganti buku bacaan, sehingga sekolah mampu menciptakan lingkungan sosial dan efektif untuk belajar. Selain itu, guru dan petugas perpustakaan, hendaknya berkolaborasi untuk membuat bahan ajar yang berbasis teknologi, sehingga sekolah memiliki perpustakaan digital dan tugas-tugas siswa pun berbasis teknologi serta ujian dengan menggunakan sistem on line atau on LAN (Local Area Network) dan mendorong terlaksananya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Budaya literasi melalui GLS diharapkan dapat mewujudkan warga sekolah yang literat, warga sekolah yang berkarakter dan berbudi pekerti, serta mampu meningkatkan kualitas siswa dan profesionalisme guru, sehingga sumber daya manusia Indonesia pun akan meningkat dan siap bersaing dengan negara lain.

Tags: , ,
Categorised in:

Comment Closed: GLS… Mewujudkan Masyarakat Literat

Sorry, comment are closed for this post.